Akupun begitu, bagaimana mungkin aku mudah membukakan pintu untukmu.
Ingatkah kau saat dulu?
berjuang demi slalu menyapaku
kemudian kau mudah kecewa saat aku tak menghiraukanmu...
Entahlah, lambat laun dan tanp kusadari kau telah banyak berubah. tak ada lagi tujuan saat ku lelah untuk bersinggah. tak ada lagi berdebah yang setia menghiburku dikala pilu perasaanku.
Hai!!
apa kabar?apa boleh aku menanyakan satu hal padamu?
haruskah aku peduli, gelisah, atau bahkan resah atasmu?
wahai air mata,
tolong jangan lancang untuk keluar walau hanya setetes. kau harus tau bahwa aku tak rela atas itu. tak ingin rasanya jika kau mengalirkannya hanya demi menuntaskan rasa pedihku yang tak pantas tuk dibela. aku tak ingin kau iba karna sesungguhnya ini adalah kesalahan hatiku yang sedang rindu dengan penghibur.